Monday, December 31, 2012

Simple Kind of Life


“Much of our activity these days is nothing more than a cheap anesthetic to deaden the pain of an empty life.”-unknown

Ada sekat antara ingin dan butuh, namun kadang saya susah membedakan. Lalu saya tengoklah itu piramida Abraham Maslow.  Yang saya temukan adalah fakta bahwa kebutuhan saya ternyata gak banyak-banyak amat. Jika saya fokus pada kebutuhan material, yang saya butuhkan rupanya cuma sandang, pangan, dan papan. Lalu kenapa kebutuhan dasar ini memuai kemana-mana? Saya merasa tidak cukup hanya dengan tiga hal ini. Saya yakin harus memasukkan cellphone, laptop, koneksi internet, kendaraan, subscription to New Scientist, body lotion, lipgloss, sunblock, setumpuk toiletries, hingga koleksi DVD serial Sherlock. Tanpa barang-barang ini saya somehow yakin positif seratus persen edan gila akan menderita.

Di lain waktu, saya mendapati diri bengong di depan lemari, bersumpah ‘nothing to wear’ padahal setumpuk baju layak pakai bertengger di depan mata. Lalu saya garuk-garuk kepala melihat sandal yang sudah setahun nangkring di rak dan baru sekali dua kali dipakai, ikat pinggang yang bergelantungan, dan jaket yang rupanya telah saya beli dan jebloskan ke dasar lemari di hari yang sama. Ada juga parfum yang terbeli hanya atas dasar desakan sosial. Saya kemudian merasa bagai ditabok kesadaran. Ada sekat antara ingin dan butuh, dan batas yang jelas antara menjadi konsumen pintar dan korban iklan, manusia cerdas dan idiot jagad raya, namun sering saya khilaf. Kebutuhan pokok saya memuai. Belanja saya sering acak dan berakhir tanpa guna. God I beg your mercy rupanya saya terjerat konsumerisme bersama dengan milyaran manusia lainnya.


Konsumerisme sendiri, dalam konteks ini, menurut saya anyway, adalah paham dimana pembelian dan konsumsi barang dan jasa oleh individu atau sekelompok masyarakat merupakan hal yang mahfum, wajar, dan mungkin bahkan baik. Seorang konsumeris akan terpuaskan dan bahagia oleh komoditas yang dia beli. Ini adalah hasil dari ilusi kepemilikan.  Ownership itu tak pernah eksis secara alami, melainkan ciptaan manusia. Punyaku, rumahku, mobilku, bajuku, uangku, hapeku. Kita diajari untuk mengiris dunia menjadi apa yang kita punya dan tidak. Padahal ownership ini tidak pernah ada. Kitalah yang membuatnya ada. Ilustrasinya, bagimana jika kita, atau at the very least, saya,mendadak hidup di bumi, di kondisi yang sedemikian rupa sehinnga saya mampu berdiri sendiri, dan segala kebutuhan saya terpenuhi. Saya hidup dalam isolasi penuh dan memang begitulah adanya. Saya selalu, sedang dan akan tetap menjadi satu-satunya orang di muka bumi ini. Lalu barang yang mana yang saya miliki? Tanpa manusia lain untuk saya ajak banding-bandingan, barter, dagang, untuk saya buali dengan daftar barang yang saya punya, ownership tidak akan ada. Yang ada hanya saya dan dunia. Titik. Tak ada lagi mana yang punya saya dan mana yang bukan.

Di satu sisi, ownership ini, lepas dari natural atau tidak eksistensinya di dunia, adalah esensial. Konsep kepemilikan ini  sudah melekat erat di mentalitas setiap individu, dan inilah yang memungkinkan adanya interaksi dalam sebuah kelompok, inilah yang memungkinkan masyarakat untuk berfungsi. Celakanya hanya jika kita menjadi terobsesi. Karena obsesi pada kepemilikan ini sudah pasti berujung pada konsumerisme, materialisme,kapitalisme dan isme isme keparat lainnya.

Konsumerisme sendiri, sama seperti dualitas konsep kepemilikan, bisa jadi dua mata pisau yang sama-sama tajam. Di satu sisi, konsumerisme menggerakkan roda perekonomian. Tanpa adanya konsumsi maka produksi bisa mandek total, pabrik bangkrut, pengangguran meningkat, ekonomi kolaps, resesi, depresi, kiamat skala negara. Tapi jika sudut pandang ini kita balik, produksi untuk pemenuhan konsumsi pasar ini sejujur-jujurnya tidak perlu ada. Sama sekali tidak perlu ada. Contoh sederhanaya akan saya comot dari globalissues.org edisi Pisang yang diposting pada September 2001. Begini ceritanya:

Pisang merupakan salah satu industri andalan di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Untuk menyuplai demand, banyak hutan hujan yang dibabat untuk dijadikan lahan. Jangan kira produksi pisang besar-besaran ini untuk konsumsi lokal. Sama sekali bukan. Produksi ini adalah untuk kebutuhan ekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika. Dengan kata lain, produksi ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi pasar.Demand-lah yang pertama kali mendorong pembukaan lahan. Tanpa demand tidak akan ada produksi. Tanpa produksi tidak akan ada lapangan kerja, tidak ada pendapatan, roda perekonomian dan seteruasnya. Singkat cerita, konsumerisme adalah nyawanya. Lalu, katakan konsumsi berhenti total. Demand mendadak nihil. Kita lalu dihadapkan pada ilusi bahwa kita bisa mati tanpa adanya konsumerisme. Padahal, kalau dipikir ulang, daripada membuka lahan untuk pemenuhan konsumsi pasar, pengerahan tenaga besar-bersaran untuk industri pisang, kenapa segala sumber daya ini tidak dibebaskan saja untuk pemenuhan kebutuan pangan lokal. Ekonomi masyarakat lalu tidak bergantung pada permintaan pasar. Kiamat negara bisa ditunda. Tambahan lagi, biodiversity bisa dilakukan. Degradasi lingkungan pun bisa diminimalisir.

Ini baru masalah pisang, tip of an iceberg. Bagaimana kalau kita membahas industri peternakan? Hampir 250.000 liter air dihabiskan hanya untuk memproduksi 2,5 ons daging, 70% hasil pertanian di USA dikerahkan untuk memberi makan sapi, dan celakanya lagi, 16% gas metana dunia rupanya berasal dari sendawa ternak, dan ini membuat dadas lapisan ozon. Belum lagi kotoran yang alih-alih menjadi pupuk, malah menjadi toxic waste (nationalgeographic.org).

Data lainnya: … For every pound of red meat, poultry, eggs, and milk produced, farm fields lose about five pounds of irreplaceable top soil. The water necessary for meat breeding comes to about 190 gallons per animal per day, or ten times what a normal Indian family is supposed to use in one day, if it gets water at all.
(Vandana Shiva, Stolen Harvest, (South End Press, 2000), pp. 70-71)

Sudah tidak efisien, merusak alam pula. Ada doa diam-diam yang saya panjatkan agar industri ini bangkrut suatu hari nanti entah bagaimana caranya. Butuh keajaiban tentu saja. Keajaiban lainnya adalah jika lima dari sepuluh orang mendadak vegan, produksi ini setidaknya bisa ditekan. Karena sesungguhnya kita juga bisa mencerna protein nabati tanpa melalui perut sapi.

Kembali ke masalah konsumerisme. Seandainya kita memotong rantai makanan ini, selalu aka nada yang kontra. Bahwa roda ekonomi dan hidup pegawai industri peternakan sedang dipertaruhkan, bahwa konsumerisme adalah seesensial kadar oksigen di udara. Well, sama dengan pisang di Karibia, kita bisa selamanya memproduksi daging untuk pasar dan selamanya menggantungkan hidup pada pasar, atau kita bisa melakukan diversifikasi ekonomi dan madiri. Swasembada pangan lah katanya. Produksi untuk kebutuhan lokal. Atau  kalaupun untuk permintaan pasar, setidaknya beralih ke pertanian saja. Toh kita bisa makan gandum dan beras, kacang panjang atau oats.

“It’s easy for you to say.” You then may protest. Iya, saya tahu itu. Memang mudah bagi saya untuk berteori. Karena dalam prakteknya, pola konsumsi sudah menjadi bagian dari hidup kita. Dan konon kata para pakar ekonomi, sedikit saja permintaaan akan suatu barang atau jasa menurun, bisa berakhir dengan resesi, depresi, dan pengangguran skala nasional. Mengubah pola konsumsi berarti perombakan kultural secara total, dengan efek samping dislokasi ekonomi yang entah seberapa parah. Susah. Mustahil. Jalan buntu. Inconceivable. Tentu saja. Tidak masuk akal. Konsumsi sudah menjadi bagian integral. Pertumbuhan ekonomi  suatu negara saja dihitung  dari Gross National Product (GNP), yakni total barang dan jasa yang diproduksi dalam satu tahun. Artinya, saudara-saudara, tolok ukur pertumbuhan ekonomi adalah kemampuan kita untuk: mengkonsumsi!

Mengutip kata bapak Robbins dalam bukunya: The single most important measure of economic growth is, after all, the gross national product (GNP), the sum total of goods and services produced by a given society in a given year. It is a measure of the success of a consumer society, obviously, to consume (Richard Robbins, Global Problem and the Culture of Capitalism, (Allyn and Bacon, 1999), pp. 209-210)

Konsumsi adalah sentral untuk hampir semua aspek ekonomi. Efeknya pun global. Singkatnya, we consume, we create products and produce pollution and waste.  Lepas dari peran ‘positifnya’ sebagai penggerak roda ekonomi, konsumsi berkaitan erat dengan degradasi lingkungan, ekspoitasi, bahkan kemiskinan, bahkan kelaparan, kesenjangan antara negara maju dan berkembang. Karena negara kaya lah yang menghabiskan mayoritas produksi dunia. Negara miskin yang megap-megap paying the way the wealthier in the world consume. Contohnya adalah relokasi industri negara maju ke negara berkembang demi menghindari tuntutan protokol Kyoto atau ekspor barang bekas elektronik ke Asia dengan dalih recycling. Seriously, garbage floods us. And we are being screwed up but we don’t fucking realize that.

Oh my! I start to swear. Not a good sign. Kembali ke masalah utama.

Jadi jika dirunut lagi, kalau ditanya mengapa kadar konsumerisme saya semakin merajalela, saya akan menyalahkan iklan. Iklan membanjir hampir di setiap sudut kota, di setiap menit televisi, di gang-gang, di warung pojokan, bahkan di kantor dan sekolah yang katanya seharusnya bebas iklan. Media menjual image, menjual citra dan saya hidup bukan di gua. Saya terpapar iklan setiap hari. Jadi normal jika saya tertelan juga pada akhirnya.  Bahkan, diakui atau tidak, pilihan saya terhadap produk bukan lagi murni pilihan saya. Pilihan saya adalah pilihan setan kapitalisme. We are what we wear. And we are what we have.  Personality saya kemudian didefinisikan oleh fantasi iklan dan citra ideal bentukan televisi. What we are merges with roles and images portrayed in the media. Well, aren’t we all?

Selain itu, on top of it, saya manusia. Dan di jaman edan ini, kadang, belanja bukan lagi survival need, bukan lagi demi pemenuhan  kebutuhan sehari-hari. Kadang, belanja merupakan manifestasi ego, untuk menyakinkan diri sendiri bahwa saya punya power and gengsi. Selain itu lagi, lagi-lagi, saya manusia, dan jatuh dalam ilusi kepemilikan adalah wajar saja. Sering saya merasa bahwa belanja ini itu bisa menambal bolong-bolong yang ada di entah bagian diri saya yang sebelah mana. Dan bolong-bolong ini infinit. Jadi, hari ini saya beli hape Android, besok saya kepingin Tab, kemarin saya makan di Shinmen, besok mau Sushi Tei. Tak ada habisnya.

Sama halnya dengan pendapatan yang naik, pengeluaran juga naik. Paychecks increase, lifestyles normally adjust to the increases. Hasilnya sama. Sama-sama berakhir dengan keresahan finansial dan masalah budgeting, hanya barangnya saja yang tambah banyak, atau kualitasnya yang tambah tinggi.

Lalu dengan segini riweuhnya urusan konsumerisme, apa yang harus saya lakukan? Well, saya tetap kerja demi uang dan saya tetap punya barang-barang. Saya tak lantas menempuh jalan zuhud dan mendedikasikan diri pada kemiskinan. Anti-konsumerisme bukan solusi. Karena anti dan obsesi pada kepemilikan barang-barang hanyalah manifestasi dari krisis yang sama. Yang saya harus lakukan adalah keseimbangan. Stuff isn’t the problem. The problem is my ability to control my inner space. Solusi general bagi krisis konsumerisme ini, to me anyway, adalah stabilitas pikiran. For peace is not the absence of conflicts, but how we cope with them. Dengan inner space yang solid, saya percaya, saya tidak akan ngoyo dan terobsesi pada materi, seeing past the illusion of ownership and simply play this game of life.

Lalu pertanyaan pamungkasnya adalah: bagaimana saya melakukannya?

Well, that’s a good question. But the answer is, sadly, that I have no idea.

Saya kira saya hanya bisa berusaha, mungkin menambal bolong-bolong tersebut dengan spiritualitas, filosofi, cinta, serta doa dan harapan bahwa saya akhirnya nanti sampai pada tahap dimana saya bisa menjalankan sebuah jalan hidup yang sederhana.

A Simple Kind of Life.

Maka saya pun akan cuek pada persepsi kemakmuran versi orang Jawa, versi ibu dan mbah saya lebih tepatnya. Maka saya akan bebas dari iri dengki dan segala energi negatif saat tetangga mengendarai mobil mengkilap. Maka saya akan santai-santai saja tanpa terbelenggu rayuan gadget and gizmos. Dan tidak akan terbuai lama oleh sanjungan, tidak jatuh oleh cibiran. Dan, tentu saja, tidak lagi terpasung konsumerisme.

Ijinkan saya memberi sedikit penjelasan: konsumerisme dalam konteks keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Bagi ibu dan mbah saya, sukses adalah sederhana: kerja kantoran, gaji bulanan, baju bagus dan toko emas pindah ke leher dan lengan. Dua hal pertama sudah bisa mereka terima, saya mandiri sejak dan bahkan sebelum lulus kuliah, tapi dua terakhir ini ada masalah. Saya tidak pernah merasa perhiasan itu ada gunanya, sementara untuk ibu dan mbah saya, perhiasaan sudah bergeser dari luxury ke kebutuan primer tingkat paling dasar sejajar dengan sandang pangan. Wanita wajib pakai. Dan untuk baju, di mata mereka, saya barangkali baru terlihat beradap kalau saya memakai kaftan berlapis Swarovski. Sementara penampilan paling maksimal saya adalah sebatas kaos dan sandal gunung. Kesimpulannya? Barang-barang bergeser fungsi disini. Dari sandang yang seharusnya cuma buat menutup badan menjadi sarana pencitraan. Dan saya selamanya kekeuh pada azas utilitas.

Di kesempatan lain, kakak saya menyarankan untuk beli mobil. Ini lagi… nyetir saja saya gak becus. Lalu ada teman yang merasa gadget saya gak cukup up to date dan gak cukup cuma satu. Hari gini gak pakai BB? Begitu katanya. Saya bilang saya gak merasa butuh. Android satu saja juga jarang-jarang kepakai. Tapi saya yakin penjelasan saya susah diterima. Memberi penjelasan sama halnya dengan menjabarkan argumen saya mengenai konsumerisme dan kapitalisme. Karena akan tampak sangat aneh, mengingat perbincangan saya sehari-hari cenderung kasual dan jarang melibatkan ideologi, saya pun memilih diam.

Ada lagi yang lucu, jaman ngekos waktu kuliah dulu, ada yang berceletuk kalau kamar saya terlalu rapi cenderung bersih dari barang-barang. Mendengarnya saya baru sadar, kalau volume barang yang saya anggap cukup ini ternyata bagai lapak kecil di tengah ramainya pasar Wonokromo kalau dibandingkan dengan kamarnya.  Dia secara implisit bangga dengan kepemilikannya yang masif cenderung maruk, secara implist merasa socially superior. Tapi superior-inferior kan hanya masalah perspektif.Bagi saya, superior justru sebaliknya, ketika kita menghindari pola hidup konsumtif dan menanggalkan gengsi demi cinta pada lingkungan dan ideologi.

Konsumerisme terjadi dan eksis dan tak terhindari. Anak muda malah cenderung yang paling memberi kontribusi, kalau menurut saya. Ceritanya, beberapa hari lalu saya mblakrak ke Karimun Jawa. Perahu yang kami tumpangi menuju pulau-pulau rupanya berkapasitas tiga puluh orang. Digabunglah kami bertujuh dengan segerombolan anak muda lainnya. Di tengah-tengah kerumumunan handbag sederhana dan ransel polyester, menjulanglah sebuah tas Furla warna pink menyala.  Saya baru tahu kalau itulah yang disebut Furla. Pemiliknya adalah cewek barangkali seumuran saya yang jeritannya melengking dan lagaknya bisa jadi menandingi Syahrini. Teman saya yang vegan, cenderung ideologis dan berpandangan relatif nyentrik, menyebutnya a city princess. Saya lalu ingat pada barisan city princesses yang menghuni mall-mall Surabaya, baju-baju seharga belanja bulanan keluarga di kampung-kampung, jam tangan berbandrol price tag yang bisa menyokong pendidikan satu pemimpi hingga lulus SMP, tas-tas sejenis Hermes dan Furla yang bisa ditukar alat tulis buat anak satu sekolah.  Pola hidup konsumtif ini setan, sumpah saya entah pada siapa.

Sorenya saya nongkrong di warung nasi goreng di pojokan Karimun Jawa, saya iseng berceletuk sambil meneggak cola. Kepada teman yang sama saya bertanya, “What do you call a person who buys stuff they don’t actually need, who owns gadgets just because they’re trendy, who goes to parties and refuses to miss any stuff which is in, and simply spends money because they can?”

Sambil mengunyah bihun dia tampak berpikir sejenak. Dalam otak saya ada frasa heavy consumerist. Saya hanya ingin mengklarifikasi, atau barangkali ada istilah lain yang luput dari kemampuan berbahasa asing saya. Saat dia hendak menjawab, saya mengantisispasi. Jawaban emas, pikir saya.

“Kind of a party goer?”

“Not just for parties. For anything trendy. You know, anak gaul. So gaul that they have the latest gadgets, the most fashionable handbags, and so on.”

“Oh” Dia menjawab tanpa repot-repot meninggalkan piringnya, “I think I have a word for that one,”

“It’s called…. stupid.”

Saya pun ngakak sejadi-jadinya.

Konsumerisme ini, just so you know, sering bersifat anomali. Riset menyatakan bahwa tingkat pendapatan berbanding lurus dengan kebahagiaan hanya sampai level tertentu saja. Hasil survey mengenai tingkat kepuasan hidup di 65 negara mengindikasikan bahwa pendapatan dan  kebahagiaan sejalan hanya sampai angka annual income $13,000 saja (dollar 1995). Setelahnya, income yang lebih tinggi hanya memberikan efek kecil pada penigkatan tingkat kebahagiaan yang dilaporkan dalam survey tersebut (nationalgeograpic.org).

Kita bekerja keras, lembur, mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan tapi dengan tingkat stress yang tinggi, yang berimbas pada mininmya waktu untuk kehidupan sosial dengan teman dan keluarga. Semua dilakukan demi terpenuhinya high consumption lifestyle. Ironi. Lalu penyakit datang. Lebih banyak uang yang diperlukan. Tapi kita malah counterproductive. Ironi. Bahwa sesungguhnya minimalisasi konsumsi bisa jadi awal hidup yang lebih tidak ngoyo.

Anomali konsumerisme yang lain bisa dilihat dari data berikut ini:

And consider the following, reflecting world priorities:

Global Priority in $U.S. Billions:Cosmetics in the United States 8; Ice cream in Europe 11; Perfumes in Europe and the United States 12; Pet foods in Europe and the United States 17; Business entertainment in Japan 35; Cigarettes in Europe 50; Alcoholic drinks in Europe 105; Narcotics drugs in the world 400; Military spending in the world 780.

And compare that to what was estimated as additional costs to achieve universal access to basic social services in all developing countries:

Global Priority in $U.S. Billions: Basic education for all 6; Water and sanitation for all 9; Reproductive health for all women 12;Basic health and nutrition 13.

(Sumber: The state of human development 2, United Nations Human Development Report 1998, Chapter 1, p.37)

Bagaimana bisa, kita, atau the American lebih tepatnya, berbelanja kosmetik dengan dana yang lebih besar dari anggaran pendidikan untuk negara berkembang. There is, of course, no easy solution for the problem. Pola pikir yang perlu diubah. Tapi mana mungkin saya mengubah dunia. Porsi ini terlalu mustahil untuk terjangkau tangan saya. Mana mungkin juga mengubah pola konsumsi para city princesses. Juga menyalahkan mereka yang gila gadget dan hanya bisa bahagia dengan berbelanja, mereka yang patching the hole, filling the vacuum, menambal bolong yang tidak akan ada habisnya.  Semua itu ada diluar kontrol saya. Lagipula, pola konsumsi salah dan benar itu juga sebenarnya tidak ada. Tidak ada yang inheren benar atau salah di dunia ini. Semuanya terlahir netral. Benar dan salah adalah reaksi mental kita, reaksi mental saya semata. Subjektif total. Subjektif saya. Yang jika boleh saya ungkapkan, mari kita tinjau kembali pola konsumsi kita. Mari kita pikir, apakah butuh atau ingin, wajar atau berlebih, karena sesungguhnya, saat kita memilih sepatu mana yang lebih chick hanya untuk menambah koleksi, diluar sana, ada anak yang seharusnya punya harapan masa depan, yang berangkat sekolah hanya bemodal sandal jepit butut dan iganya menonjol karena malnutrisi.

Jika boleh saya ungkapkan, mulailah kita, atau mungkin saya, mulailah saya, mari memulai pola hidup yang lebih ramah lingkungan, wajar, dan membumi.

Let’s try to lead a simple kind of life. Karena sesungguhnya,


Less is more.






P.S: Simple Kind of Life adalah judul lagu No Doubt di album Return to Saturn (2000)

No comments:

Post a Comment